Inilah aku

Perjalanan kehidupan ini tak ada yang tahu. Semuanya hanya Allah yang tahu. Manusia hanya bisa berencana dan berdoa agar rencananya dapat terwujud. Namun terkadang kekecewaan selalu muncul dalam hidup ini. Terkadang hidup ini terasa indah dan bahkan sebaliknya, sangat pahit. Itu semua harus dijalani sesuai skenario yang telah dibuat oleh Allah. Kesabaran dan kegigihan serta kerja keras harus tetap terjaga, untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Itulah prinsip hidup yang diajarkan oleh orangtua saya. Walaupun terlahir dari seorang Ibu yang hanya berpendidikan SMA, namun begitu banyak pelajaran yang membuat saya tetap berusaha menjadi yang terbaik walaupun kegagalan selalu menimpa.

Sejak kecil hingga saat ini saya berumur 20 tahun, impian saya adalah menjadi seorang dokter yang dapat bermanfaat dan mensejahterakan orang banyak. Namun, saya sangat kecewa ketika saya tidak dapat melanjutkan pendidikan saya untuk menjadi seorang dokter. Saya hanya bisa melanjutkan pendidikan saya dibidang gizi masyarakat. Walaupun demikian saya tetap bersyukur karena diterima menjadi mahasiswi di Institut Pertanian Bogori.

Sejak menjadi Mahasiswi Gizi Masyarakat IPB banyak perubahan yang terjadi. Tidak hanya pola pikir, sikap dan karakter. Saya pun sedikit demi sedikit menjadi lebih baik. Tetapi dalam proses tersebut ternyata tidak mudah. Saya adalah seseorang yang terkadang suka terbuka dan terkadang tertutup. Hal itu tergantung masalah apa yang sedang saya alami. Namun, saya adalah Type orang yang sabar walaupun di katain oleh teman-teman, saya hanya bisa tersenyum. Namun, ketika saya sedang mengalami banyak masalah saya bisa menjadi seseorang yang cepat emosi tetapi hal itu tidak lama. Kekurangan saya adalah saya tidak bisa menikmati semua mata kuliah yang saya ikuti. Karena saya adalah orang yang cepat bosan. Hal ini tergantung dari siapa yang mengajar mata kuliah tersebut.

Awal menjadi mahasiswi, perasaan ingin pulang ke kampung halaman selalu ada. Kampung halaman tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. Tempat yang penuh kenangan bersama keluarga dan teman-teman saya. Walapun hanya sebuah kota kecil, saya bangga menjadi seorang anak perempuan yang dilahirkan dan dibesarkan di kota Nabire Papua. Orangtua saya bukanlah orang asli Nabire melainkan asli Bima Nusa Tenggara Barat. Namun walaupun begitu cinta akan tempat kelahiran tidak hilang begitu saja. Karena Nabire merupakan tempat yang memberikan banyak pembelajaran yang berharga.

Keluarga saya adalah keluarga kecil dimana saya hanya memiliki satu saudara kandung. Jarak usia kami sangat dekat, hanya berbeda dua tahun saja sehingga kami diperlakukan selayaknya anak kembar. Selain itu, sejak kecil kami sering dibanding-bandingkan sehingga terkadang sering timbul rasa iri pada diri kami. Namun, seiring berjalannya waktu kami sadar bahwa orangtua kami menyayangi kami berdua tanpa bermaksud membeda-bedakan kami. Apa lagi setelah saya memperoleh mata kuliah pengembangan karakter saya menjadi lebih tahu kenapa sikap orangtua saya seperti itu. Sebenarnya mereka tidak pilih kasih kepada salah satu dari kami, namun hanya cara yang mereka tampakkan kurang sesuai sehingga kami merasa seperti itu. Dengan keluarga yang sangat kecil ini saya sangat bahagia karena kebersamaan kami sangat terasa, kami sering berjalan bersama ketika hari libur sekolah. Ayah kami menggonceng kami dengan sepeda motornya. Dan yang paling menyenagkan adalah orangtua kami selalu mengajak kami untuk berdiskusi ketika ada masalah ataupun ketika mereka ingin mengambil sebuah keputusan. Sehingga kami selalu tahu apa yang terjadi dalam keluarga kami.

Ayah saya hanyalah seorang pegawai negeri sipil biasa di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire Papua. Dia pun hanya lulusan SMA dan ketika dia menjadi pegawai negeri dia mengikuti pendidikan di SPK (Sekolah Pendidikan Kesehatan) Kabupaten Nabire Papua. Ibu saya juga hanya lulusan SMA, namun pola pikirnya selalu berkembnag karena Ibu adalah seseorang yang memiliki kemauan untuk terus belajar dari manapun, walaupun dia tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ayah saya saat ini berusia 47 tahun, sedangkan Ibu saya 44 tahun. Ayah berasal dari keluarga yang sangat sederhana, begitu pun dengan Ibu. Namun Ibu adalah seorang wanita yang sangat perkasa bagi saya karena ketika saya belum terlahirkan dia merelakan diri berjualan pakaian mengelilingi kampung untuk membantu keuangan keluarga. Kerja keras orangtua saya ini membuat saya dan adik saya bisa melanjutkan pendidikan hingga keperguruan tinggi. Namun, ketika saya lahir Ibu memilih berjualan di rumah agar dapat merawat saya. Dan hingga saya SMP Ibu beralih membuka usaha meubel. Namun, usaha itu tidak berjalan hingga saat ini. Saat ini Ibu tidak lagi berusaha meubel tersebut, tempat usaha Ibu dijual karena saat itu Ibu dan Ayah ingin pindah ke kampung halamannya Bima. Tapi karena ada beberapa kendala administrasi Ayah tidak bisa pindah sehingga hingga saat ini mereka masih tinggal di tempat kelahiran saya. Oleh karena itu, saat ini saya harus berhemat karena pemasukkan keluarga kami hanya dari gaji Ayah saja yaitu sekitar Rp 2.500.000,- per bulan. Sebenarnya gaji ayah sebesar Rp 3.000.000,- per bulan. Namun karena ada berbagai potongan dari kantor dimana Ia bekerja, ayah tidak bisa menerima seluruh gajinya.

Pemasukkan dari gaji ayah ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja tapi juga digunakan untuk membiayai kuliah anak-anaknya. Ketika semester 3 yang lalu saya pernah mengajar les untuk anak TPB (Tingkat Persiapan Bersama) IPB. Saya hanya bisa mengajar selama satu semester karena Ibu saya tidak membolehkan saya. Sehingga saya harus berhenti untuk mengajar. Saat ini kiriman yang diberikan oleh orangtua saya hanya secukupnya saja yaitu Rp 500.000,- per bulan sehingga saya harus irit. Namun hal itu tidak mematahkan semangat saya untuk tetap belajar dan berusaha memberikan hasil yang terbaik bagi orangtua saya. Walaupun sering mengalami kekurangan saya tidak pernah mengeluhkannya pada orang tua saya karena saya tau mereka sudah cukup bekerja keras untuk membiayai semuanya. Uang kiriman tersebut tidak saya habiskan melainkan saya tabungkan sebagian, besar tabungan saya tergantung berapa banyak pengeluaran saya dalam bulan tersebut. Terkadanng dalam sebulan saya hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 400.000,- dan sisanya saya tabung. Keadaan seperti ini membuat saya harus mencari kosan yang lebih murah dari teman-teman saya. Dan saat ini saya tinggal di sebuah kosan sederhana yang biayanya sesuai dengan kemampuan saya. Kosan saya saat ini adalah di daerah leuwikopo. Selain murah, masyarakat sekitar pun ramah-ramah dan baik sehingga saya merasa nyaman tinggal di kosan ini.

Kemudian berbicara mengenai kegiatan akademik saya mungkin tidak ada yang sangat membanggakan. Saya merupakan salah satu penganut paham Sistem Kebut Semalam untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian. Hal ini sudah melekat pada diri saya semenjak beberapa tahun yang lalu, tepatnya sejak saya kuliah. Bukannya tidak memiliki waktu senggang, tetapi tugas yang diberikan memang agak banyak, ditambah lagi dengan adanya kegiatan non-akademik seperti kepanitiaan dan organisasi yang semakin membuat saya kehabisan waktu untuk istirahat dan belajar sehingga mau tidak mau waktu malam yang tersisa setelah digunakan untuk membuat tugas sisanya digunakan untuk istirahat. Keadaan inilah yang membuat saya secara terpaksa belajar dan mengulang pelajaran hanya ketika akan menghadapi ujian saja. Tidak enak memang, karena semua pelajaran yang kita baca akan hilang sesudah ujian selesai jika menerapkan sistem ini. Tetapi lama kelamaan ini menjadi suatu kebiasaan yang mendarah daging dan membuat kita kecanduan untuk mengulanginya lagi.

Kondisi yang saya alami sekarang ini bertolak belakang dengan kondisi yang saya alami ketika SMP ataupun SMA, dimana saya kerap kali dijadikan contoh dan tempat bertanya oleh teman-teman yang kurang mengerti mengenai pelajaran. Akan tetapi sekarang saya yang harus lebih sering bertanya jika tidak mengerti materi kuliah, kondisi jadi berbalik. Namun justru ini yang membuat saya tersadar bahwa masih banyak kekurangan yang saya miliki, no body is perfect. Hal ini juga lah yang membuat saya ingat akan perkataan guru SMA saya yang terus menyemangati kami, anak muridnya, untuk melanjutkan kuliah di lintas pulau bahkan lintas benua agar pengetahuan kami bertambah luas, tidak seperti katak dalam tempurung.

Walaupun terkadang hal ini justru membuat saya pusing sendiri, memikirkan seberapa jauh yang belum saya ketahui sedangkan teman-teman yang lain sudah sangat menguasai tentang materi tersebut. Tetapi lama kelamaan saya semakin menikmati keadaan seperti ini, yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya mulai terbiasa dengan lingkungan baru yang dikelilingi oleh orang-orang hebat, kelak saya akan tumbuh menjadi orang hebat berikutnya. Amin

Untuk masalah nilai akademik, orangtua saya selalu menuntut agar saya harus memperoleh hasil yang bagus. Satu kekuranngan dari pola pikir orang tua saya adalah menurut mereka sebuah nilai merupakan akar dari kesuksesan, padahal itu tidaklah mutlak. Namun, perlahan-lahan saya selalu menjelaskan kepada mereka bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh nilai saja tapi softskill juga berperan penting dalam hal ini. Dan saya sangat senang karena kedua orang tuasaya maun menerima pendapat saya itu, walaupun butuh waktu yang tidak sebentar. Tuntutan mereka tidak membuat saya menjadi tertekan dan stress. Hal itu justru menjadikan cambuk motivasi yang membuat saya harus terus berusaha lebih keras dan bangkit ketika mengalami kegagalan. Hal ini dapat saya rasakan karena saya hanya mengambil hal positif  dari tuntutan orangtua saya ini. Namun, hingga saat ini harapan untuk memperoleh nilai yang selalu bagus belum dapat terpenuhi. Terkadang saya menjadi sedih ketika mengingat kerja keras orangtua tetapi saya tidak bisa membalasnya dengan memenuhi tuntutan mereka.

Walapun demikian, hingga saat ini hubungan keluarga yang terjalin antara saya dan orangtua serta saya dan adik saya sangat baik. Semakin hari hubungan kami semakin dekat, harmonis, dan terbuka. Semua hal yang terjadi selalu kami bicarakan bersama. Tidak ada satu hal pun yang kami sembunyikan antara satu sama lain. Namun tidak jarang terjadi konflik antara kedua orangtua saya, hal itu terjadi ketika ada perbedaan pendapat yang keduanya tidak mau mengalah dengan pendapat mereka. Hal itu tidak lama terjadi, karena masalah tersebut langsung diselesaikan. Dengan keterbukaan dalam keluarga kami ini membuat saya sebagai anak dapat menjadi tertekan ketika adanya konflik antara kedua orangtua saya. Tetapi, tanpa saya sadari hal ini dapat menjadikan pembelajaran bagi saya ketika nantinya saya berumah tangga.

Selanjutnya, berbicara mengenai keluarga, setiap orang pasti memiliki tujuan yang berbeda dalam menjalani sebuah keluarga, bisa karena uang, martabat ataupun lain sebagainya, termasuk karena ingin mencari kebahagian. Jika seseorang memutuskan untuk memulai kehidupan berkeluarga, berarti dia harus siap untuk menjalani kehidupannya dengan peran yang berbeda dibanding sebelumnya. Ia juga harus bisa memutuskan setelah menikah mau menjalani peran hanya sebagai seorang perempuan/ laki-laki saja atau hanya sebagai ayah/ ibu saja atau memilih untuk menjalankan kedua peran tersebut.

Menjadi seorang perempuan ataupun laki-laki dalam sebuah keluarga mempunyai arti bahwa seseorang itu harus mengerti peran dan tanggung jawabnya sebagai seorang perempuan/laki-laki bagi pasangannya masing-masing. Sehingga salah satu tujuan mereka dalam membentuk sebuah keluarga bisa dicapai, terutama dari sisi biologis. Namun setelah mempunyai anak, mereka juga harus mempersiapkan diri tidak hanya menjadi seorang perempuan ataupun laki-laki melainkan juga sekaligus sebagai ayah dan ibu. Dalam hal ini, tugas dan tanggung jawab yang mereka hadapi tentu berbeda pula. Dimana ketika mempunyai anak, masing-masing pasangan harus bisa membedakan mana tugas sebagai seorang suami/istri dan mana tugas sebagai seorang ibu/ayah serta juga harus dapat membagi waktu untuk suami/istri dan waktu untuk anak-anak mereka nantinya.

Selain itu, yang harus diperhatikan dalam membina sebuah keluarga adalah bagaimana cara masing-masing pasangan memandang sebuah pekerjaan sebagai faktor penunjang atau faktor pelengkap untuk mencapai sebuah kebahagiaan dalam keluarga, bukannya malah sebagai faktor utama pembentuk sebuah keluarga. Jika sebuah keluarga menomorsatukan pekerjaan diatas segalanya, apalagi sampai mengabaikan keberadaan anak disekitarnya, maka hal itu hanya akan berdampak pada ketidakharmonisan sebuah keluarga.

Anak merupakan titipan Tuhan dan juga merupakan bukti kasih sayang antara pasangan suami-istri yang harus dijaga dan dirawat dengan penuh kasih sayang agar kelak bisa menjadi anak yang berbakti, terutama kepada kita, orangtuanya. Jika orangtua yang berperan sebagai role model menunjukkan contoh yang baik, maka kelak anak tersebut juga tumbuh menjadi anak yang baik, begitu juga sebaliknya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kedua orangtua selalu mengingatkan kepada kami, anak-anaknya bahwa tidaklah mudah menjalankan hidup berkeluarga. Banyak rintangan yang harus kita singkirkan untuk mencapai tujuan sebuah keluarga yang sebenarnya, yaitu kebahagiaan. Adanya perbedaan suasana yang akan kita hadapi nantinya ketika sudah membina suatu rumah tangga kerap kali membuat seseorang stress dan menyesal telah mengambil keputusan untuk berkeluarga. Belum lagi ia harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang perempuan/laki-laki terhadap suami/istrinya. Namun, semua itu pasti bisa diatasi jika kita mau berusaha untuk menjalankannya dengan ikhlas dan saling terbuka antara masing-masing pasangan. Orangtua juga seringkali mengajarkan bagaimana tingkah laku yang baik dalam menghadapi suami/istri, bagaimana cara yang baik dalam mengurus rumah tangga, bagaimana cara yang baik mengurus anak dan lain sebagainya, termasuk juga bagaimana cara mempersiapkan diri untuk menjalani kebutuhan biologis suami ataupun istri.

Terkait dengan cita-cita yang berhubungan dengan pekerjaan, banyak sekali hal-hal yang ingin saya dapatkan, diantaranya yaitu, menjadi seorang penulis, menjadi dosen, menjadi seorang wirausaha sukses, dan cita-cita terbesar yang pernah saya miliki adalah dapat melanjutkan pendidikan saya di luar negeri yaitu di McGill University Montreal Canada. Akan tetapi untuk hal-hal yang berhubungan dengan keluarga, saya memiliki cita-cita sama dengan kebanyakan umat muslim lainnya, yaitu ingin membentuk keluarga yang sakinnah, mawaddah, warahmah dan tentunya dengan seorang suami yang sholeh dan anak-anak yang berbakti kepada orangtua. Selain itu, cita-cita yang paling mendasar terkait dengan hubungannya dalam berkeluarga saya ingin menjadi seorang istri yang sholihah yang mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang istri ataupun sebagai seorang ibu sesuai dengan syariat agama.

Maraknya isu gender terkait dengan feminisme dan emansipasi wanita membuat tidak ada lagi batas atau perbedaan bagi perempuan ataupun laki-laki dalam hal aktualisasi diri. Sehingga hal ini membuat peran antara perempuan dan laki-laki itu seimbang terhadap apapun yang mereka kerjakan. Tidak ada pekerjaan laki-laki yang tidak boleh dikerjakan oleh perempuan, begitu juga sebaliknya. Semua orang berhak melakukan apapun yang mereka ingin kerjakaan. Adanya perbedaan gender bukanlah merupakan suatu penghalang bagi mereka untuk tidak melakukan sesuatu karena gender bukanlah suatu kodrati, melainkan sesuatu yang dibuat oleh manusia berdasarkan perannya masing-masing dan dapat diubah sewaktu-waktu. Akan tetapi, yang harus diperhatikan adalah setinggi apapun pekerjaan istri, dia tidak boleh melawan pada suami dan harus menghormatinya.

Pembagian peran dalam keluarga saya sangat terlihat jelas dari pihak, ayah ataupun ibu. Ayah sebagai primary breadwinner sedangkan ibu membantu pendapatan keluarga sebagai secondary breadwinner. Dimana Ayah saya sebagai pegawai negeri sedangkan Ibu saya swata. Walaupun demikian, ibu dan ayah tidak pernah melupakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai orangtua. Mereka tetap memperhatikan dan memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Selain itu, ayah tidak pernah keberatan untuk membantu Ibu mengerjakan tugas rumah tangga seperti  mengurus anak, mencuci piring, bahkan mencuci pakaian. Demikian juga dengan ibu, ia tidak keberatan jika suatu saat harus lembur jika keluarga memang lagi membutuhkan tambahan biaya untuk aktivitas sehari-hari.

Jika memiliki keluarga kelak, saya juga ingin berkarya dan mengekspresikan diri sesuai dengan keinginan dan kemampuan saya. Saya berharap suami saya dapat memahami bahwa kebahagiaan dalam sebuah keluarga tidak hanya dicapai dengan seorang istri yang sibuk bekerja dan mengurusi urusan rumah tangga saja. Akan tetapi, kebahagiaan dalam keluarga juga dapat dicapai meskipun sang istri bekerja di luar sektor domestik, selama ia bisa membagi waktunya dan membedakan mana tugas selama di luar rumah dan mana tugas di dalam rumah. Selain itu, tentunya juga harus ditunjang oleh dukungan dari suami, baik dukungan moril maupun psikologis.

Dukungan yang diberikan suami secara langsung memberikan dampak positif bagi istri terhadap karir yang sedang dijalaninya. Hal itu menandakan bahwa suami setuju akan keputusan yang ia ambil untuk berkarir sehingga membuat ia menjadi tidak ragu lagi untuk bertindak. Dukungan yang diberikan bisa dalam bentuk apapun, seperti membantu tugas istri dibidang domestik dalam hal mengurus anak, memasak, mencuci dan sebagainya. Jika suami saya sudah memahami semua hal itu, dia tidak akan menentang karir yang nantinya akan saya jalani. Bahkan dia akan dengan senang hati menemani dan membantu saya apabila terdapat kesulitan selama menjalankan tugas. Disamping semua itu, saya tetap tidak akan melupakan tugas dan tanggung jawab saya sebagai seorang istri sekaligus sebagai seorang ibu tentunya. Mengasuh dan merawat anak, suami serta mengurus urusan rumah tangga, karena keluarga adalah segalanya dan keluarga adalah tempat menciptakan karakter anak yang baik dan membanggakan nantinya. Tidak hanya di dunia saja namun hingga akhirat nantinya. Amin

Tidak hanya dalam hubungan keluarga yang baik, hubungan yang terjalin antara saya dan teman-teman kuliah saya sangat baik. Karena kami sering bekerja sama dalam berbagai kegiatan akademik maupun non-akademik. Hubungan yang baik ini terbentuk pula karena kami selalu mendiskusikan segala hal. Sehingga kami merasakan hubungan yang terjalin sudah seperti keluarga dan saudara. Selain itu, kami menyadari bahwa kesuksesan itu tidak dapat tercapai jika seseorang hanya berdiri dan berjuang sendiri. Segala sesuatu tidak dapat ditempuh dengan sendirinya, namun juga membutuhkan bantuan dari orang lain. Pembelajaran ini juga mengajarkan saya agar tidak boleh sombong dengan kelebihan dari diri saya.

One thought on “Inilah aku

  1. NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://uangtebal.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s